Kedua.
Jangan menangis begitu. Ku bilang jangan menangis sederas itu
Harusnya aku yang menangis…....shit!
* * *
“Mau tidur sampai jam berapa Jin?”
Jinpa namanya.
Baru membuka sebelah kiri matanya ketika suara milik si rambut panjang lembut berkaca mata terdengar tepat di telinganya.
“ sampe kiamat, kak” jawabnya cuek.
Si rambut panjang hanya tersenyum sembari meraih bantal di sampingnya.
“aku gak harus melakukan ini setiap pagi kan, Jin?”
“ well.. tough luck, brother! you have to face it every single day! Ever!”
Kakak laki-laki Jinpa. Namanya Natan; segera menimpa muka Jinpa dengan bantal tadi dan menekannya sekuat tenaga. Jinpa meronta-ronta hebat.tangan dan kakinya terayun ke segala arah sementara Natan masih dengan senyum lembutnya bertahan.
“awgeeew ae gev ep!!” teriak Jinpa dari bawah bantal; yang berarti ‘ooookey I give up!’
Natan tersenyum puas yang kemudian beranjak menuju arah pintu keluar.
“cepat mandi! Kantormu mulai jam 8 kan? Aku pergi duluan ya. Jangan lupa titipkan si mono ke ibu sebelah”
“ owkeh..eh siapa nama ibu itu?”
“ibu Lani”
“sip! Drive safely!”
“ bye”
Natan menutup pintu. Hening.
Jinpa melirik ke arah kiri jendela kaca yang mengijinkan sinar matahari pagi menerpa hampir seluruh kasur. Sedikit mencoba mengingat mengapa dia ada di apartemen kakak semata wayangnya hari itu.
Baru terjadi tadi malam Jinpa memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan orang yang dulu dianggapnya sebagai objek penyaluran afeksinya. Iya..kekasih..pacar..apapun itu. Sebenarnya menurut Jinpa, ini benar-benar saat yang tepat untuk menangis.
Dia sendirian.
Well…bersama Mono sih disampingnya..
Mono?
Errrr wufgh!…
Dia menggeliat kemudian menyungsupkan kepalanya pada lengan Jinpa. Jinpa tersenyum geli..Mono, si Siberian husky hitam-perak baru saja terbangun dari tidur dhuhanya. Jinpa mengelus lembut kepala atas Mono sambil meneruskan monolognya.
Gak akan ada yang memberi tatapan iba atau menertawakan dia kalau dia melakukan aktivitas itu. Menangis. Tapi tidak bisa. Terangnya bumi pagi itu benar-benar menjadi alasan utama Jinpa untuk tidak menangis. Jinpa hanya diam menerawangi awan tipis dan beberapa gagak yang melintas dari bingkai penglihatannya.
Gagak?
Sedikit mengerutkan dahi karena heran, Jinpa beranjak untuk menyeduh kopi hangat. Wangi lantai kayu apartemen Natan yang selalu bersih bercampur dengan wangi cat akrilik yang bersisa pada pallete dan aroma kopi membuat Jinpa menghirup udara lebih dalam sambil memejamkan matanya.
“maaf…Jinpa maaf, please! Aku sudah berusaha, tapi kenapa…kenapa Jinpa?”
Tok tok tok!
Jinpa segera kembali ke dunia nyata. Ingatan semalam yang baru saja terbesit membuat detak nadinya jadi tak beraturan.
“iya?” Jinpa membuka pintu.
“selamat pagi nak Jinpa.” Ibu Lani berdiri di hadapannya dengan baju setelan rapih. Sekilas terlihat seperti Camilla parker bowless, Jinpa manggut-manggut tak sadar.
“wahh ibu Lani…selamat pagi. Ada apa ya?”
“saya memutuskan untuk memulainya lebih pagi, jadi….”
“jadi?” Jinpa tersesat
“jadi..ehm! bisa saya bawa Mono sekarang?”
“Ah! Jalan pagi maksud ibu? Aha…ha….ha…….ha “ cengiran Jinpa mengakibatkan alis ibu Lani naik sebelah.
“sebentar ya..silahkan masuk bu”
Jinpa melebarkan bukaan pintunya sembari berbalik dan memanggil mono agar menampakkan diri. Ibu Lani melangkah hanya sekali. Matanya menyapu keseluruhan interior apartemen tetangganya ini tanpa ekspresi. Di perhatikannya tiap gerik Jinpa meraih Mono dan sesekali mengucek-ngucek kepala anjing kakaknya. Tanpa sadar ibu Lani terenyum.
“ terima kasih sebelumnya ya bu” ucap Jinpa ramah sambil menyerahkan tali leher Mono ke tangannya
“gak perlu, Jinpa.saya memang ingin ditemani Mono kok”
Giliran Jinpa yang menaikkan alisnya sebelah.
Ditemani Mono?
Dari sekian ribu orang yang dikenalnya, dan dari beratus sekian keluarganya, dia lebih ingin ditemani oleh anjing?
Jinpa menghela nafas sejalan dia menerawang dan menghentikan fokusnya pada lukisan setengah jadi karya Natan.
Pupil matanya membesar.
Bagi Jinpa, putaran bumi berhenti saat itu.
* * *
Harusnya aku yang menangis…....shit!
* * *
“Mau tidur sampai jam berapa Jin?”
Jinpa namanya.
Baru membuka sebelah kiri matanya ketika suara milik si rambut panjang lembut berkaca mata terdengar tepat di telinganya.
“ sampe kiamat, kak” jawabnya cuek.
Si rambut panjang hanya tersenyum sembari meraih bantal di sampingnya.
“aku gak harus melakukan ini setiap pagi kan, Jin?”
“ well.. tough luck, brother! you have to face it every single day! Ever!”
Kakak laki-laki Jinpa. Namanya Natan; segera menimpa muka Jinpa dengan bantal tadi dan menekannya sekuat tenaga. Jinpa meronta-ronta hebat.tangan dan kakinya terayun ke segala arah sementara Natan masih dengan senyum lembutnya bertahan.
“awgeeew ae gev ep!!” teriak Jinpa dari bawah bantal; yang berarti ‘ooookey I give up!’
Natan tersenyum puas yang kemudian beranjak menuju arah pintu keluar.
“cepat mandi! Kantormu mulai jam 8 kan? Aku pergi duluan ya. Jangan lupa titipkan si mono ke ibu sebelah”
“ owkeh..eh siapa nama ibu itu?”
“ibu Lani”
“sip! Drive safely!”
“ bye”
Natan menutup pintu. Hening.
Jinpa melirik ke arah kiri jendela kaca yang mengijinkan sinar matahari pagi menerpa hampir seluruh kasur. Sedikit mencoba mengingat mengapa dia ada di apartemen kakak semata wayangnya hari itu.
Baru terjadi tadi malam Jinpa memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan orang yang dulu dianggapnya sebagai objek penyaluran afeksinya. Iya..kekasih..pacar..apapun itu. Sebenarnya menurut Jinpa, ini benar-benar saat yang tepat untuk menangis.
Dia sendirian.
Well…bersama Mono sih disampingnya..
Mono?
Errrr wufgh!…
Dia menggeliat kemudian menyungsupkan kepalanya pada lengan Jinpa. Jinpa tersenyum geli..Mono, si Siberian husky hitam-perak baru saja terbangun dari tidur dhuhanya. Jinpa mengelus lembut kepala atas Mono sambil meneruskan monolognya.
Gak akan ada yang memberi tatapan iba atau menertawakan dia kalau dia melakukan aktivitas itu. Menangis. Tapi tidak bisa. Terangnya bumi pagi itu benar-benar menjadi alasan utama Jinpa untuk tidak menangis. Jinpa hanya diam menerawangi awan tipis dan beberapa gagak yang melintas dari bingkai penglihatannya.
Gagak?
Sedikit mengerutkan dahi karena heran, Jinpa beranjak untuk menyeduh kopi hangat. Wangi lantai kayu apartemen Natan yang selalu bersih bercampur dengan wangi cat akrilik yang bersisa pada pallete dan aroma kopi membuat Jinpa menghirup udara lebih dalam sambil memejamkan matanya.
“maaf…Jinpa maaf, please! Aku sudah berusaha, tapi kenapa…kenapa Jinpa?”
Tok tok tok!
Jinpa segera kembali ke dunia nyata. Ingatan semalam yang baru saja terbesit membuat detak nadinya jadi tak beraturan.
“iya?” Jinpa membuka pintu.
“selamat pagi nak Jinpa.” Ibu Lani berdiri di hadapannya dengan baju setelan rapih. Sekilas terlihat seperti Camilla parker bowless, Jinpa manggut-manggut tak sadar.
“wahh ibu Lani…selamat pagi. Ada apa ya?”
“saya memutuskan untuk memulainya lebih pagi, jadi….”
“jadi?” Jinpa tersesat
“jadi..ehm! bisa saya bawa Mono sekarang?”
“Ah! Jalan pagi maksud ibu? Aha…ha….ha…….ha “ cengiran Jinpa mengakibatkan alis ibu Lani naik sebelah.
“sebentar ya..silahkan masuk bu”
Jinpa melebarkan bukaan pintunya sembari berbalik dan memanggil mono agar menampakkan diri. Ibu Lani melangkah hanya sekali. Matanya menyapu keseluruhan interior apartemen tetangganya ini tanpa ekspresi. Di perhatikannya tiap gerik Jinpa meraih Mono dan sesekali mengucek-ngucek kepala anjing kakaknya. Tanpa sadar ibu Lani terenyum.
“ terima kasih sebelumnya ya bu” ucap Jinpa ramah sambil menyerahkan tali leher Mono ke tangannya
“gak perlu, Jinpa.saya memang ingin ditemani Mono kok”
Giliran Jinpa yang menaikkan alisnya sebelah.
Ditemani Mono?
Dari sekian ribu orang yang dikenalnya, dan dari beratus sekian keluarganya, dia lebih ingin ditemani oleh anjing?
Jinpa menghela nafas sejalan dia menerawang dan menghentikan fokusnya pada lukisan setengah jadi karya Natan.
Pupil matanya membesar.
Bagi Jinpa, putaran bumi berhenti saat itu.
* * *
