Thursday, June 29, 2006

Kedua.

Jangan menangis begitu. Ku bilang jangan menangis sederas itu

Harusnya aku yang menangis…....shit!

* * *

“Mau tidur sampai jam berapa Jin?”
Jinpa namanya.
Baru membuka sebelah kiri matanya ketika suara milik si rambut panjang lembut berkaca mata terdengar tepat di telinganya.
“ sampe kiamat, kak” jawabnya cuek.
Si rambut panjang hanya tersenyum sembari meraih bantal di sampingnya.
“aku gak harus melakukan ini setiap pagi kan, Jin?”
“ well.. tough luck, brother! you have to face it every single day! Ever!”
Kakak laki-laki Jinpa. Namanya Natan; segera menimpa muka Jinpa dengan bantal tadi dan menekannya sekuat tenaga. Jinpa meronta-ronta hebat.tangan dan kakinya terayun ke segala arah sementara Natan masih dengan senyum lembutnya bertahan.
“awgeeew ae gev ep!!” teriak Jinpa dari bawah bantal; yang berarti ‘ooookey I give up!’

Natan tersenyum puas yang kemudian beranjak menuju arah pintu keluar.
“cepat mandi! Kantormu mulai jam 8 kan? Aku pergi duluan ya. Jangan lupa titipkan si mono ke ibu sebelah”
“ owkeh..eh siapa nama ibu itu?”
“ibu Lani”
“sip! Drive safely!”
“ bye”
Natan menutup pintu. Hening.
Jinpa melirik ke arah kiri jendela kaca yang mengijinkan sinar matahari pagi menerpa hampir seluruh kasur. Sedikit mencoba mengingat mengapa dia ada di apartemen kakak semata wayangnya hari itu.

Baru terjadi tadi malam Jinpa memutuskan untuk tidak lagi berhubungan dengan orang yang dulu dianggapnya sebagai objek penyaluran afeksinya. Iya..kekasih..pacar..apapun itu. Sebenarnya menurut Jinpa, ini benar-benar saat yang tepat untuk menangis.
Dia sendirian.
Well…bersama Mono sih disampingnya..
Mono?
Errrr wufgh!…
Dia menggeliat kemudian menyungsupkan kepalanya pada lengan Jinpa. Jinpa tersenyum geli..Mono, si Siberian husky hitam-perak baru saja terbangun dari tidur dhuhanya. Jinpa mengelus lembut kepala atas Mono sambil meneruskan monolognya.
Gak akan ada yang memberi tatapan iba atau menertawakan dia kalau dia melakukan aktivitas itu. Menangis. Tapi tidak bisa. Terangnya bumi pagi itu benar-benar menjadi alasan utama Jinpa untuk tidak menangis. Jinpa hanya diam menerawangi awan tipis dan beberapa gagak yang melintas dari bingkai penglihatannya.
Gagak?
Sedikit mengerutkan dahi karena heran, Jinpa beranjak untuk menyeduh kopi hangat. Wangi lantai kayu apartemen Natan yang selalu bersih bercampur dengan wangi cat akrilik yang bersisa pada pallete dan aroma kopi membuat Jinpa menghirup udara lebih dalam sambil memejamkan matanya.

“maaf…Jinpa maaf, please! Aku sudah berusaha, tapi kenapa…kenapa Jinpa?”

Tok tok tok!

Jinpa segera kembali ke dunia nyata. Ingatan semalam yang baru saja terbesit membuat detak nadinya jadi tak beraturan.
“iya?” Jinpa membuka pintu.
“selamat pagi nak Jinpa.” Ibu Lani berdiri di hadapannya dengan baju setelan rapih. Sekilas terlihat seperti Camilla parker bowless, Jinpa manggut-manggut tak sadar.
“wahh ibu Lani…selamat pagi. Ada apa ya?”
“saya memutuskan untuk memulainya lebih pagi, jadi….”
“jadi?” Jinpa tersesat
“jadi..ehm! bisa saya bawa Mono sekarang?”
“Ah! Jalan pagi maksud ibu? Aha…ha….ha…….ha “ cengiran Jinpa mengakibatkan alis ibu Lani naik sebelah.
“sebentar ya..silahkan masuk bu”
Jinpa melebarkan bukaan pintunya sembari berbalik dan memanggil mono agar menampakkan diri. Ibu Lani melangkah hanya sekali. Matanya menyapu keseluruhan interior apartemen tetangganya ini tanpa ekspresi. Di perhatikannya tiap gerik Jinpa meraih Mono dan sesekali mengucek-ngucek kepala anjing kakaknya. Tanpa sadar ibu Lani terenyum.
“ terima kasih sebelumnya ya bu” ucap Jinpa ramah sambil menyerahkan tali leher Mono ke tangannya
“gak perlu, Jinpa.saya memang ingin ditemani Mono kok”
Giliran Jinpa yang menaikkan alisnya sebelah.
Ditemani Mono?
Dari sekian ribu orang yang dikenalnya, dan dari beratus sekian keluarganya, dia lebih ingin ditemani oleh anjing?

Jinpa menghela nafas sejalan dia menerawang dan menghentikan fokusnya pada lukisan setengah jadi karya Natan.
Pupil matanya membesar.
Bagi Jinpa, putaran bumi berhenti saat itu.



* * *

Monday, June 26, 2006

Kesatu.

Bumi berputar, dan semuanya ikut berputar.
Lalu gelap.

***

Seekor nyamuk sedang bersiap untuk menghisap salah satu urat kecil di lengan kanannya ketika kedua kelopak mata Bumi membuka perlahan.

Sudah berapa lama aku tertidur?, pikirnya. Syaraf telapak tangannya segera merasakan mulut botol bir lokal yang tadi sempat dibelinya pulang dari kantor. Alkohol sialan!, rutuk Bumi dalam hati. Tadi kata hatinya sudah mengingatkan kesulitannya beradaptasi dengan minuman beralkohol. Namun saat ini dia butuh pelarian.

Masih dalam posisi terlentang di lantai kamarnya, Bumi menghela napas. Perlahan dia berusaha bangkit, namun limbung. Dicobanya lagi sambil tidak menghiraukan rasa sakit yang menghantam kepalanya. Pun sedikit goyah, Bumi akhirnya berhasil berdiri. Hal pertama yang dicarinya adalah rokok.

Mana tuyul-tuyul kecil bernikotin itu sih?, omelnya pada diri sendiri. Sambil merogoh-rogoh saku celana bahannya, sudut matanya menyapu permukaan meja kerja dari kayu tua di depannya. Saat itu juga perhatiannya tersita. Tidak cukup dekat, namun untuk kesekian kalinya Bumi dapat membaca satu-satunya kalimat di lembar putih itu.

Jangan dengarkan dia.

***

Siang itu panas terik menyengat. AC di kantor Bumi yang dinginnya biasanya bikin menggigil seakan-akan tak berfungsi. Dua berkas file dari dua klien yang berbeda ada di meja Bumi, tepat di hadapannya. Namun jangankan melihat isinya, menyentuhnya pun Bumi enggan. Diliriknya jam tangan yang ada di lengan kirinya. Jam tiga sore mana pernah sekering ini?, gumam Bumi.

Kantor Bumi sebenarnya tidak berupa kantor. Sembilan bulan yang lalu, ketika Bumi memutuskan untuk memisahkan dunia kerja dan tempat tinggal, Bumi menemukan tempat ini. Sebuah rumah lama yang sudah tidak ditempati, dan akhirnya dikontrakkan oleh pemiliknya.

Ada beberapa hal berbau kuno di dunia ini yang membuat Bumi tergila-gila, dan rumah adalah salah satunya. Untuk rumah yang satu ini, Bumi jatuh cinta pada pandangan pertama. Rumah kuno dengan rumput hijau dan taman bunga di depannya, punya banyak jendela sehingga sinar matahari sungguh dipersilahkan mengisi setiap paginya. Hangat, itu kesan pertama Bumi. Ternyata gayung bersambut. Sang kakek pemilik rumah menyukai keramah-tamahan yang ada pada diri Bumi. Masalahnya cuma harga. Bumi belum sesukses itu untuk dapat menyewa sebuah rumah di Jl. Mendawai Blok M yang notabene dekat dengan jalan protokol. Akhirnya setelah dibicarakan, sang kakek setuju untuk menyewakan garasi rumahnya sebagai kantor Bumi yang baru.

Garasi itu kecil, ukurannya cuma sepuluh setengah meter persegi. Namun Bumi tidak peduli. Toh badan gue kurus, pikirnya waktu itu. Tiga minggu sejak persetujuan, Bumi mengisi sela-sela dateline yang memburunya dengan mengisi dan merapikan garasi tersebut sehingga berkesan adem dan nyaman. Ditemani hanya oleh sebuah radio tua peninggalan bapaknya, setiap harinya Bumi selalu melewatkan waktu kerjanya sebagai penulis lepas untuk artikel majalah-majalah lokal ternama dengan tenang di garasi itu sampai hari menjelang malam. Sampai hari itu.

Bumi sedang menutup pintu kantornya ketika tiba-tiba mendengar namanya disebut.

"Bumi?"

Dengan heran Bumi menatap ke arah wanita itu. "Ya?"

Wanita itu putih. Parasnya anggun berona merah, senada dengan mimik polos yang tergambar di wajahnya. Pakaiannya hampir persis dengan Bumi, polo shirt putih dengan jins biru. Hanya tidak ada robekan-robekan kecil pada jinsnya. Rambut hitamnya ikal pendek. Dia tersenyum, namun hambar.

"Tolong rubah semua.", kata wanita itu.

Alis Bumi mengerut. Bingung. "Maksut kam...?"

"KRINGG!!"

Suara dering telepon kantornya membuat Bumi terkejut. Bumi mengangkat tangan kanannya ke arah wanita itu untuk menyuruhnya menunggu. Selagi dia berbalik untuk membuka kembali pintu kantornya, Bumi memandang sesaat ke depan.

Wanita itu sudah tak ada lagi di situ.

***