Tuesday, July 04, 2006

Ketiga.

Plaza Blok M, pukul 1 siang lewat beberapa menit. Untuk kebanyakan pekerja Jakarta saat itu, lunch time baru saja selesai. Tadi setelah menimbang-nimbang sesaat, akhirnya Bumi memilih untuk melewatkan break-nya di pusat keramaian terdekat. Rasa laparnya hilang setelah kejadian di depan kantornya tadi, namun rasionya masih mengingatkannya untuk membeli beberapa keperluan sehari-hari yang hampir habis di kantornya. Melewati pintu masuk utama, Bumi langsung menuruni eskalator menuju pasar swalayan satu-satunya di tempat itu.

Suasana di dalam supermarket pada hari biasa jauh lebih sepi dibanding hari ketika memasuki akhir minggu. Seorang wanita hamil setengah baya dengan terusan biru muda sedang serius merundingkan sesuatu dengan petugas di bagian daging. Satu pasang muda-mudi berbaju SMA terlihat asyik memilih-milih coklat di rak cemilan. Seorang nenek tampak sedang kerepotan melayani permintaan cucunya yang duduk di dalam sebuah troli tak jauh dari situ. Tangan si anak lincah menunjuk-nunjuk bermacam toples permen di depannya.

Sabun udah. Odol udah. Shaving cream masih ada.

….aspirin?, dahi Bumi berkerut.

Bumi masih memainkan satu kaplet obat penghilang pening itu beberapa saat dengan tangan kanannya sebelum meletakkannya kembali di tempatnya semula.

Sembari meletakkan keranjang belanjaannya di kasir, imajinasi Bumi melayang kembali ke kejadian tadi. Dua hari berturut-turut. Dua kejadian janggal. Surat tanpa alamat yang kemarin pagi ditemukannya di depan pintu masuk kantornya, dan si rambut ikal yang hadir hanya sesaat tadi.

Rubah apa? Rubah tulisannya di majalah? Tulisan yang mana? Majalah yang mana juga? Apa wanita itu tersinggung karena salah satu tulisannya dimuat?

Secara signifikan insting penulis Bumi terusik dan terus menciptakan pertanyaan-pertanyaan baru. Pertanyaan keenam, ketujuh, dan seterusnya.

“Semua tiga puluh sembilan ribu seratus rupiah, Pak.”, kata-kata dari petugas kasir di depannya menyadarkan Bumi untuk melupakan bayangan majemuk itu.

“Ambil aja kembaliannya, Mba”, Bumi tersenyum sambil menyerahkan dua lembar dua puluh ribuan.

“Sungguh, Pak…dalam hati kecil saya tak pernah terbersit sekalipun untuk menerima sesuatu dari customer kami.”, kata si petugas sambil tersenyum penuh keanggunan dan menyerahkan uang kembalian.

“….maaf?”, Bumi melongo. Namun petugas tadi sudah sibuk kembali menekan tuts mesinnya untuk memasukkan data belanjaan customer selanjutnya. Secara samar Bumi masih dapat melihat seulas senyum di wajah si petugas wanita.

Tiga detik berlalu, sampai akhirnya Bumi bisa melangkahkan kakinya meninggalkan supermarket itu. Ada suatu kepanikan entah muncul darimana dalam pikirannya. Dia hanya ingin kembali ke kantornya yang tenang saat itu juga. Dalam usahanya menuju pintu keluar, dirasakannya irama langkahnya yang semakin lama semakin cepat. Plastik belanjaannya berayun kesana-kemari, sampai mengenai lutut seorang pria yang dilewatinya.

“Ah, maaf Pak.”, ujar Bumi seraya menunduk sedikit.

Si pria tersenyum tulus. “Tak apa. Saya paham Anda pastilah amat terburu-buru saat ini.”, katanya sambil meninggalkan Bumi yang lagi-lagi hanya bisa melongo.

Ini…? Ada apa ini dengan orang-orang? Ini plaza, bukan suatu jamuan resmi yang biasa dihadirinya ketika satu majalah tempatnya mencari nafkah sedang merayakan suatu hal besar. Pun itu, kata-kata tadi masih tergolong aneh untuk diucapkan. Ditambah pria tadi hanya memakai kaos oblong butut, berambut gondrong, tipikal penjual majalah yang ada di pinggir-pinggir jalan. Dan si kasir tadi…?!

Bumi mulai berlari. Lari, lari, dan tetap berlari, pikirnya. Panas. Butiran-butiran kecil keringat mulai bermunculan di dahinya. Tidak dipedulikannya sama sekali tatapan orang-orang yang heran melihat kecepatan yang ada pada dirinya saat itu. Sampai akhirnya Bumi keluar.

Langit. Bebas…

Napasnya masih tersengal-sengal ketika Bumi membuka pintu gerbang dan menemukan hal itu. Sambil kedua tangannya berpijak di kedua lututnya, Bumi memandangi surat yang terselip di bawah pintu masuk kantornya. Rupanya hampir sama dengan yang terdahulu. Tanpa alamat satupun, dan sampulnya warna putih kekuningan.

Dengan cepat Bumi merobek sampulnya dan mengambil isinya. Air mata Bumi hampir jatuh karena rasa kesal yang dirasakannya ketika selesai membaca kalimat itu.

Jalani saja.

***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home