Kesembilan.
Sorong. Nama salah satu kota yang terletak di ujung teratas bumi Papua. Jinpa sempat sangat mencintainya hingga seperti berakar erat di tiap gerik matanya. Kota kecil nan rapih yang ramai akan spesies kasuari dan kakak tua masih beranggotakan keluarga hutan rindang yang berhamparan di kiri dan kanan jalan dengan aspal yang terlihat masih segar. Seingat Jinpa dia bahagia.
Jinpa menikmati di tiap detik pertemuannya dengan pagi, dengan malam dan dengan laut.
Laut saat itu masih tersentuh Jinpa dengan pelukannya.
Laut akan selalu di sana ketika sang bunda tak cukup mengeringkan luka di dalam Jinpa.
Jinpa jadi mandiri dan gampang menenangkan diri. Bahkan ketika Ayah dan kakak tiri datang masuk dalam kehidupan Jinpa, laut lagi-lagi menjadi andalan Jinpa Hanya memejamkan mata sejenak dan membayangkan laut tercintanya, maka Jinpa dapat menguasai pikiran dan hatinya sekaligus. Jinpa diatas angin.
Dan seiring waktu, ketenangan itu menjadi karakter utama Jinpa.
Kalah dalam pertandingan tenis? Tenang
Pacar direbut sahabat? Tenang
Sikap klien seperti ikan oscar minta makan? Tenang
Cinta bertepuk sebelah tangan? Tenang
ditowel-towel? gampar!
Kuncinya? Hanya mengambil 7 detik dari keseluruhan waktu, imaji kecintaannya langsung merasuk. Langsung meruak.
Meredamkan kepenatan
Saat ini pukul.09.45 wib
Di detik ke 9, Jinpa menemukan dirinya sedikit tersengal akibat mengejar mahluk baru bernama Bumi.(iyah...manusia..)
Dan untuk ke dua kali ini jurus andalan lautnya tiba tiba mengalami kegagalan cukup fatal.Mengapa diikatakan cukup fatal? karena Jinpa sempat memejamkan mata dan visi andalannya hampir tervisualisasi,nah..
jadibuyar begitu hidungnya mengendus aroma sang bumi yang memunggunginya. (bukan..bukan bau badan. Penjelasan ilmiahnya bisa dikatakan errrr feromon?)
entah apa yang mendorongnya tapi Jinpa merasa ia tidak boleh membiarkan Bumi pergi sekarang.
aku gak ngerti..
gak ngerti di bagian mananya Jin?
di bagian kenapa orang ini bisa langsung lari gituh
ya habis...kamu nanya asal nebak
ya kan gak harus pergi ninggalin begitu aja!
trus kamu kejar, gitu?
ya iya dong! dia lari!
biasanya kamu tenang
kalo lautnya sukses juga ga bakal aku kejar!ggrrrrggghh
Sampai detik ke 13.
Otak Jinpa bekerja super keras. Dia harus mengatakan sesuatu sebelum orang dihadapannya ini akan menghilang lagi.Dia harus protes sama Bumi! Lautnya hilang.
”Denger...sebenernya kamu..” mata Jinpa pindah fokus menuju benda antik di belakang Bumi. Mungkin Bumi menyadari kalau warna muka Jinpa segera berubah menjadi lebih pucat
”kamu....yang mecahin vas nya....bum?” lanjut Jinpa dengan warna muka yang sudah sempurna pucat.
Jinpa menikmati di tiap detik pertemuannya dengan pagi, dengan malam dan dengan laut.
Laut saat itu masih tersentuh Jinpa dengan pelukannya.
Laut akan selalu di sana ketika sang bunda tak cukup mengeringkan luka di dalam Jinpa.
Jinpa jadi mandiri dan gampang menenangkan diri. Bahkan ketika Ayah dan kakak tiri datang masuk dalam kehidupan Jinpa, laut lagi-lagi menjadi andalan Jinpa Hanya memejamkan mata sejenak dan membayangkan laut tercintanya, maka Jinpa dapat menguasai pikiran dan hatinya sekaligus. Jinpa diatas angin.
Dan seiring waktu, ketenangan itu menjadi karakter utama Jinpa.
Kalah dalam pertandingan tenis? Tenang
Pacar direbut sahabat? Tenang
Sikap klien seperti ikan oscar minta makan? Tenang
Cinta bertepuk sebelah tangan? Tenang
ditowel-towel? gampar!
Kuncinya? Hanya mengambil 7 detik dari keseluruhan waktu, imaji kecintaannya langsung merasuk. Langsung meruak.
Meredamkan kepenatan
Saat ini pukul.09.45 wib
Di detik ke 9, Jinpa menemukan dirinya sedikit tersengal akibat mengejar mahluk baru bernama Bumi.(iyah...manusia..)
Dan untuk ke dua kali ini jurus andalan lautnya tiba tiba mengalami kegagalan cukup fatal.Mengapa diikatakan cukup fatal? karena Jinpa sempat memejamkan mata dan visi andalannya hampir tervisualisasi,nah..
jadibuyar begitu hidungnya mengendus aroma sang bumi yang memunggunginya. (bukan..bukan bau badan. Penjelasan ilmiahnya bisa dikatakan errrr feromon?)
entah apa yang mendorongnya tapi Jinpa merasa ia tidak boleh membiarkan Bumi pergi sekarang.
aku gak ngerti..
gak ngerti di bagian mananya Jin?
di bagian kenapa orang ini bisa langsung lari gituh
ya habis...kamu nanya asal nebak
ya kan gak harus pergi ninggalin begitu aja!
trus kamu kejar, gitu?
ya iya dong! dia lari!
biasanya kamu tenang
kalo lautnya sukses juga ga bakal aku kejar!ggrrrrggghh
Sampai detik ke 13.
Otak Jinpa bekerja super keras. Dia harus mengatakan sesuatu sebelum orang dihadapannya ini akan menghilang lagi.Dia harus protes sama Bumi! Lautnya hilang.
”Denger...sebenernya kamu..” mata Jinpa pindah fokus menuju benda antik di belakang Bumi. Mungkin Bumi menyadari kalau warna muka Jinpa segera berubah menjadi lebih pucat
”kamu....yang mecahin vas nya....bum?” lanjut Jinpa dengan warna muka yang sudah sempurna pucat.

0 Comments:
Post a Comment
<< Home