Wednesday, July 05, 2006

Keempat.

Jalani saja.

Hah?

Jinpa terkesiap dan secara spontan dia menoleh ke sebelahnya. Seorang laki-laki muda berumur 22 tahun menurut taksirannya. Mahasiswa pastinya, karena ia sibuk menghafalkan beberapa kata di pocketfolder nya sambil sesekali memejamkan matanya.
“maaf. Kamu bilang apa?” Jinpa memutuskan untuk bertanya
“ya? “
“barusan…kamu bilang sesuatu ke saya?”
Sang mahasiswa sempat bermuka rata tanpa ekspresi yang kemudian tersenyum lembut. Jinpa bingung.

Sarinah Sarinah

Pemberhentian transjakarta dalam 3 menit berikutnya diumumkan. Jinpa baru akan mengatakan pertanyaan yang sama ketika mahasiswa itu beranjak berdiri, bersiap untuk turun.
it was prelude
“eh?”
“kata terakhir yang saya ucapkan… ‘prelude’ “ katanya sambil mengayunkan pocketfolder nya. Dia kembali tersenyum sejalan dibukanya pintu bis. Jinpa masih memperhatikan punggung mahasiswa itu hingga menghilang terhalang punggung-punggung yang lain.

Prelude
…pendahuluan.

Permulaan yang baru?
Jinpa tersenyum getir. Untuk seseorang yang baru saja kembali menjadi single fighter, kata itu benar-benar bermakna. Yup. Jinpa memiliki kebiasaan untuk menyatukan puzzle-puzzle abstrak di riak airnya. Kadang-kadang memang seperti berhubungan. , dan paling membuatnya senang kalau ternyata memang puzzle- puzzle itu kemudian membentuk suatu bingkai yang signifikan. Ada kepuasan tersendiri di dalamnya. Seperti memenangkan kuis dengan moderatornya adalah ini. Alam.

Lantas…tadi suara siapa ya?

Jinpa memejamkan matanya

Jalani saja. Suara tadi bukan seperti mengirimkan pesan untuknya….bukan..lebih seperti….Alis Jinpa berkerut mencoba memberi predikat pada idenya - seperti lagi…

Membaca

Eh? Gimana sih? Jinpa geli sendiri.

Kecepatan transjakarta sedikit meninggi. Kelebat pohon-pohon di belakang Jinpa pun semakin cepat. Matanya lurus namun tak focus. Ingatannya kembali terseret ke imaji terakhir. Lukisan setengah jadi karya Natan. Lukisan dirinya yang dijanjikan Natan akan selesai sebentar lagi. Natan meminta ijin Jinpa untuk menjadi model lukisannya sejak 2 bulan yang lalu; tentunya dengan usaha ekstra keras baru akhirnya Natan mendapatkan approval dari Jinpa.

Bagaimana tidak? Walaupun Jinpa termasuk dalam golongan wanita proporsional dari berbagai sudut, dia tidak merasa nyaman untuk dijadikan objek. apapun itu. Jinpa kalah telak ketika Natan menjebaknya dengan mulus.
Menjebak? Betul. Natan memanfaatkan masalah kesehatannya sebagai senjata pamungkasnya saat itu. Jinpa sempat menangis bombay lantaran dikiranya kakak tirinya ini sekarat yang sebentar lagi akan mati.
Mati gara-gara pingsan kepanasan? I was soooo stupid! Sesal Jinpa sepenuh hati ;dan Jinpa segera teringat sorot mata Natan saat itu



Aduh……ringis Jinpa tiba-tiba
Ada yang bergemuruh di dalam Jinpa. Jinpa mulai merasa kalau rasa nyeri yang sering sekali datang di dada kirinya karena dia punya masalah dengan jantungnya. Yeah..u wish! Jinpa memberi tanggapan sinis pada monolognya.

Aarrrgghhh
Apa sih yang ada di otak Natan?!

Monumen nasional. Monumen nasional

Halte dimana Jinpa harus turun sudah diumumkan. Jinpa beranjak berdiri dan dibarengi dengan beberapa penumpang yang lain. Sambil membenarkan posisi ransel notebooknya, Jinpa sedikit menyibak poni tanggungnya agar tidak mengganggu penglihatannya. Jinpa baru akan melangkah ketika tiba-tiba bahu kirinya ditepuk.

Jinpa menoleh.

“hai Jin”

Deg!

* * *

0 Comments:

Post a Comment

<< Home