Wednesday, November 08, 2006

Kedelapan.

Museum Nasional. Dibuka sejak tahun 1778 untuk umum sebagai organisasi non profit di bawah Direktorat Sejarah dan Arkeologi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Sampai saat ini koleksinya mencakup peninggalan kebudayaan Indonesia dari zaman sejarah dan pra sejarah, termasuk artifak-artifak dari zaman batu, perjalanan kreasi tekstil para pengrajin di penjuru Indonesia, sampai koleksi emas dan perak dari jaman Indonesia lampau.

Bumi masih ingat rasanya pertama kali ke tempat ini. Saat itu kelas 2 SMP. Bumi sebenarnya tidak berminat untuk ikut, namun dirinya tak mempunya pilihan lain ketika ibunya memaksa dirinya mengikuti study tour dari sekolahnya ke salah satu museum dengan koleksi keramik Cina paling lengkap sejak dinasti Han, Tang, dan Ming
di dunia itu.

Dari semua koleksi keramik yang ada, sebuah vas periuk belanga berwarna hijau toska abad 16 dari dinasti Ming menarik perhatiannya. Terlihat sangat tua, namun Bumi bisa merasakan betapa sang empu pencipta membentuk motif bunga krisan di sekelilingnya dengan kesabaran dan kecermatan yang sangat tinggi. Sejak saat itulah minat Bumi pada barang-barang antik membubung tinggi hingga sampai saat ini.
Di sini, Bumi biasa menemukan ketenangan dari sumpeknya puluhan tenggat waktu dan situasi dalam hidupnya dengan menatap lama-lama maha karya favoritnya tersebut.

Tidak lagi.

Detik ini, untuk ke-12 kali dalam hidupnya, Bumi ada di depan kaca pelindung vas tersebut, masih berusaha mengatur napas dan degup jantungnya yang belum teratur. Jangankan mengagumi maha karya di depannya, membuat dirinya tenang pun dia belum mampu. Kalau saja dirinya tidak suka mengitari semua celah di tempat ini, Bumi tidak yakin dirinya berhasil melarikan diri dari kejaran wanita itu.

Again, must I....leave?
Now? Even here, strange things happen for no reason. And why in the hell she keeps chasing me like that? And...

Kaget. Dilihatnya pantulan dirinya sudah tidak lagi sendiri. Bumi bisa melihat mata si wanita mungil menatapnya lewat kaca.

Siapa tadi namanya...Jinpa?!? Sialan! Kenapa bisa...?! Arghhh!

***