Keduabelas
“Sori telat tiga hari, Lie.”, sembari menyerahkan sebuah ulasan artikel gaya hidup, Bumi mencoba untuk tersenyum ramah pada salah satu editor favoritnya itu. Tersenyum ramah? Lebih ke feel guilty sih sebenernya. Dua kesempatan dia berurusan dengan Lie Tjandra, dua kesempatan itu pula dia terlambat. Fool!
“Parah loe. Ditelponin mati, SMS ngga dibales-bales. Ke mana aja sih? Dua artikel gampangan kaya gini aja loe telat mulu. Tinggal dateng ke acara, review suasana, interview selebritis yang pada dateng….DONE! Telat setengah jam lagi nama gue ancur, Bro! Professional dong kalo mau kerja.”
“It won’t happen again.”
“You better be sure this time, or start searching a new editor, ok?”, Lie melemparkan sebuah amplop coklat yang biasa digunakan sebagai pembungkus honor orang-orang freelance yang bekerja di situ, dan sebuah amplop putih kecil.
Bumi tersenyum, lebih getir lagi.
"Well then…gue cabut ya. Thanks for this.”
“Hmmm…” Dilihatnya Lie sudah hanyut kembali dalam pekerjaannya.
Dengan lesu, Bumi beranjak meninggalkan bilik kecil itu. Beberapa orang terlihat mondar-mandir di lantai tempat dia berada sekarang. Masing-masing dengan kesibukannya sendiri. Berbagai gaya rambut, pakaian, sampai body language yang berbeda sempat berpapasan dengan dirinya. Dering telepon seperti tak berhenti terdengar. Hectic.
Beberapa detik setelah telunjuk kanannya menekan tombol turun, pintu lift terbuka di depannya. Lantai dasar.
Sambil menghampiri parkiran motor, Bumi merobek amplop coklat yang ada di kantongnya, dan memasukkan semua uang yang ada ke dalam dompet. Dirobeknya juga amplop putih kecil yang tadi diberikan Lie untuk melihat detil tugas liputan selanjutnya.
Tugasnya kali ini aneh.
Biarkan wanita itu.
Menghela napas panjang, Bumi menyadari bahwa amplop yang ini tidak berhubungan dengan liputan apapun. Hanya satu tempat yang harus dia tuju saat itu.
***
“Parah loe. Ditelponin mati, SMS ngga dibales-bales. Ke mana aja sih? Dua artikel gampangan kaya gini aja loe telat mulu. Tinggal dateng ke acara, review suasana, interview selebritis yang pada dateng….DONE! Telat setengah jam lagi nama gue ancur, Bro! Professional dong kalo mau kerja.”
“It won’t happen again.”
“You better be sure this time, or start searching a new editor, ok?”, Lie melemparkan sebuah amplop coklat yang biasa digunakan sebagai pembungkus honor orang-orang freelance yang bekerja di situ, dan sebuah amplop putih kecil.
Bumi tersenyum, lebih getir lagi.
"Well then…gue cabut ya. Thanks for this.”
“Hmmm…” Dilihatnya Lie sudah hanyut kembali dalam pekerjaannya.
Dengan lesu, Bumi beranjak meninggalkan bilik kecil itu. Beberapa orang terlihat mondar-mandir di lantai tempat dia berada sekarang. Masing-masing dengan kesibukannya sendiri. Berbagai gaya rambut, pakaian, sampai body language yang berbeda sempat berpapasan dengan dirinya. Dering telepon seperti tak berhenti terdengar. Hectic.
Beberapa detik setelah telunjuk kanannya menekan tombol turun, pintu lift terbuka di depannya. Lantai dasar.
Sambil menghampiri parkiran motor, Bumi merobek amplop coklat yang ada di kantongnya, dan memasukkan semua uang yang ada ke dalam dompet. Dirobeknya juga amplop putih kecil yang tadi diberikan Lie untuk melihat detil tugas liputan selanjutnya.
Tugasnya kali ini aneh.
Biarkan wanita itu.
Menghela napas panjang, Bumi menyadari bahwa amplop yang ini tidak berhubungan dengan liputan apapun. Hanya satu tempat yang harus dia tuju saat itu.
***
