Friday, April 06, 2007

Kesepuluh.

Vas?
Refleks Bumi melihat ke belakang tubuhnya.

Vas itu masih utuh.
Masih di sana, di tempat Bumi biasa mengagumi sang puja duniawinya.

?!?!? Tapi tadi katanya....!!!

Saat itu juga senyum getir tersungging kecil di wajah Bumi. Bumi ingin menghilang. Ingin tubuhnya seketika tidak menyerap dan memantulkan cahaya yang ada di sekitarnya. Atau cara apapun tak masalah. Hanya lenyap.

Dan Bumi membiarkan matanya memejam...

Ngga sekalian titel loe gue tambahin te-el-el aja, Bum...untuk T-O-L-O-L?!

"Ok, ok! Nice. Smooth. Perfecto! Saya nyerah. Saya heran gimana kamu bisa nemuin saya secepat ini, dan saya ngga mau tahu itu sekarang. More important is...WHAT IS THIS ALL ABOUT, YOUNG LAD?", kata Bumi keras sembari menyadari bahwa semua ketakutan yang tadi lenyap berganti amarah yang jelas-jelas terlihat dari kedua matanya yang menantang tajam ke depan.

...dan sekarang ni cewe malah bengong gini. GREAT!

"Ya, saya penulis, seperti yang kamu tebak tadi di sana. Ya, saya lahir Juli 1978 di Tasikmalaya. Dan ya, itu kota di mana pengrajin bordir di sana menduniakan satu sisi Indonesia yang lumayan ngga dihargai lagi pada jaman sekarang. Ya, saya tinggal sendiri di kawasan Blok M di sana...dan saya ngga punya masalah dengan itu. Ya, tempat itu juga saya bikin jadi kantor kecil saya nulis-nulis freelance ke beberapa majalah yang ada di Jakarta. Ya, saya freelance karena saya ngga suka terikat di satu sistem kerja di Indonesia yang sampai sekarang selalu bentrok sama salah satu pandangan hidup saya."

Menarik nafas sebentar, Bumi tahu saat ini mukanya memerah.

"Dan ya, beberapa minggu ini semua yang aneh-aneh tiba-tiba begitu aja muncul di hadapan saya. Dan selamat, kamu....Jinpa kan tadi? SAAT INI NAMA KAMU ADA DI LIST PALING ATAS DAN PALING MENGGANGGU DI SITU!"

Tiba-tiba saja satu ide meluncur cemerlang di pikiran Bumi.

"Dan kenapa kamu bisa tepat ada di sini, tepat di hadapan saya detik ini, bisa tahu bahwa saya di sini, karena kamu memang jelas-jelas tahu kalau vas hijau di belakang saya ini adalah ornamen yang paling berhasil bikin saya kagum selama bertahun-tahun dari ribuan benda yang ada di sini, dan sangat mungkin saya lari ke situ! Benar?"

Sedikit terengah, Bumi menanti jawaban. Di hadapannya, Jinpa masih diam. Mulutnya sedikit terbuka tanpa suara. Kaku. Mematung. Hanya matanya yang balas menatap Bumi. Menanar.

Sedih?

Walau hanya sekilas, Bumi bisa melihat secarik penyesalan di muka Jinpa. Hanya sekilas.

Detik berikutnya giliran Bumi gantian ternganga.

***