Monday, June 26, 2006

Kesatu.

Bumi berputar, dan semuanya ikut berputar.
Lalu gelap.

***

Seekor nyamuk sedang bersiap untuk menghisap salah satu urat kecil di lengan kanannya ketika kedua kelopak mata Bumi membuka perlahan.

Sudah berapa lama aku tertidur?, pikirnya. Syaraf telapak tangannya segera merasakan mulut botol bir lokal yang tadi sempat dibelinya pulang dari kantor. Alkohol sialan!, rutuk Bumi dalam hati. Tadi kata hatinya sudah mengingatkan kesulitannya beradaptasi dengan minuman beralkohol. Namun saat ini dia butuh pelarian.

Masih dalam posisi terlentang di lantai kamarnya, Bumi menghela napas. Perlahan dia berusaha bangkit, namun limbung. Dicobanya lagi sambil tidak menghiraukan rasa sakit yang menghantam kepalanya. Pun sedikit goyah, Bumi akhirnya berhasil berdiri. Hal pertama yang dicarinya adalah rokok.

Mana tuyul-tuyul kecil bernikotin itu sih?, omelnya pada diri sendiri. Sambil merogoh-rogoh saku celana bahannya, sudut matanya menyapu permukaan meja kerja dari kayu tua di depannya. Saat itu juga perhatiannya tersita. Tidak cukup dekat, namun untuk kesekian kalinya Bumi dapat membaca satu-satunya kalimat di lembar putih itu.

Jangan dengarkan dia.

***

Siang itu panas terik menyengat. AC di kantor Bumi yang dinginnya biasanya bikin menggigil seakan-akan tak berfungsi. Dua berkas file dari dua klien yang berbeda ada di meja Bumi, tepat di hadapannya. Namun jangankan melihat isinya, menyentuhnya pun Bumi enggan. Diliriknya jam tangan yang ada di lengan kirinya. Jam tiga sore mana pernah sekering ini?, gumam Bumi.

Kantor Bumi sebenarnya tidak berupa kantor. Sembilan bulan yang lalu, ketika Bumi memutuskan untuk memisahkan dunia kerja dan tempat tinggal, Bumi menemukan tempat ini. Sebuah rumah lama yang sudah tidak ditempati, dan akhirnya dikontrakkan oleh pemiliknya.

Ada beberapa hal berbau kuno di dunia ini yang membuat Bumi tergila-gila, dan rumah adalah salah satunya. Untuk rumah yang satu ini, Bumi jatuh cinta pada pandangan pertama. Rumah kuno dengan rumput hijau dan taman bunga di depannya, punya banyak jendela sehingga sinar matahari sungguh dipersilahkan mengisi setiap paginya. Hangat, itu kesan pertama Bumi. Ternyata gayung bersambut. Sang kakek pemilik rumah menyukai keramah-tamahan yang ada pada diri Bumi. Masalahnya cuma harga. Bumi belum sesukses itu untuk dapat menyewa sebuah rumah di Jl. Mendawai Blok M yang notabene dekat dengan jalan protokol. Akhirnya setelah dibicarakan, sang kakek setuju untuk menyewakan garasi rumahnya sebagai kantor Bumi yang baru.

Garasi itu kecil, ukurannya cuma sepuluh setengah meter persegi. Namun Bumi tidak peduli. Toh badan gue kurus, pikirnya waktu itu. Tiga minggu sejak persetujuan, Bumi mengisi sela-sela dateline yang memburunya dengan mengisi dan merapikan garasi tersebut sehingga berkesan adem dan nyaman. Ditemani hanya oleh sebuah radio tua peninggalan bapaknya, setiap harinya Bumi selalu melewatkan waktu kerjanya sebagai penulis lepas untuk artikel majalah-majalah lokal ternama dengan tenang di garasi itu sampai hari menjelang malam. Sampai hari itu.

Bumi sedang menutup pintu kantornya ketika tiba-tiba mendengar namanya disebut.

"Bumi?"

Dengan heran Bumi menatap ke arah wanita itu. "Ya?"

Wanita itu putih. Parasnya anggun berona merah, senada dengan mimik polos yang tergambar di wajahnya. Pakaiannya hampir persis dengan Bumi, polo shirt putih dengan jins biru. Hanya tidak ada robekan-robekan kecil pada jinsnya. Rambut hitamnya ikal pendek. Dia tersenyum, namun hambar.

"Tolong rubah semua.", kata wanita itu.

Alis Bumi mengerut. Bingung. "Maksut kam...?"

"KRINGG!!"

Suara dering telepon kantornya membuat Bumi terkejut. Bumi mengangkat tangan kanannya ke arah wanita itu untuk menyuruhnya menunggu. Selagi dia berbalik untuk membuka kembali pintu kantornya, Bumi memandang sesaat ke depan.

Wanita itu sudah tak ada lagi di situ.

***


0 Comments:

Post a Comment

<< Home