Thursday, August 24, 2006

Ketujuh.

HACHIHHHHH!!

Sambil mengusap hidungnya Bumi melirik heran ke arah wanita mungil di sebelah kirinya. Jarak mereka tak begitu dekat, namun tadi dia masih bisa mendengar bersin kecil dari arah situ hampir berbarengan dengan dirinya. Flu, polusi, debu, dan masih banyak lagi penyebab syaraf hidung manusia tergelitik sampai akhirnya bersin. Tapi kenapa mesti barengan?!

Mata Bumi menyipit tajam. Setelah beberapa hari terakhir ini, rasa Bumi jadi oversensitive dengan kejadian-kejadian di sekelilingnya. Membayangkan setiap tanda aneh yang bisa saja tiba-tiba menghampiri dirinya membuat dirinya letih. Dan ini…

“Errr…hidung kamu ga pa pa?”, pertanyaan bodoh itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Bumi.

Spontan Jinpa memegang hidungnya

"Nggak pa pa. Masih di tempatnya ni."

Huwahhhhh!
Jinpa bodooohh..jawaban macam apa ituuuu..lo gak nyadar apah? dia adalah mahluk bermata coklat dan bersuara indah tauuukk
bego lu bego lu bego lu!

Berisik aakkh!

"Ehm!" Jinpa mencoba mencari nada start yang lebih baik dan nyengir "Hidung kamu juga kan?"

Bagai mendengar suara background petir yang menggelegar, Jinpa nyengir tanpa tahu mukanya memucat menyadari betapa gagalnya dia saat itu sebagai seorang cewek yang telah 24 tahun hidup di dunia.

Pengen ngilang.

Di depannya mau tak mau Bumi tersenyum. Entah bagaimana, saat itu mahluk mungil asing di depannya mampu membuat dirinya merasa sangat nyaman.

Dan Bumi merindu rasa itu.

Menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal, Bumi memutuskan untuk maju selangkah dan menjulurkan tangannya. "...saya Bumi."

Please talk normally...please, God! Jgn ada kata-kata aneh yang keluar dari dia.


halo bumi...
Dalam hati Jinpa berbinar tenang saat dia mendengar nama 'Bumi' disebutkan.
"jinpa"
Jinpa menyambut tangan tokoh Bumi ini dengan spontan.

riiing...riiing...riiiiiiing
bunyi denting ringan yang menyejukkan memenuhi pendengaran Jinpa. Jinpa jenis individu yang suka menggunakan tema lagu dalam pikirannya untuk mendukung waktu hidupnya. tapi untuk yang satu ini Jinpa tidak yakin apakah ini memang hanya perintah dari otaknya atau sang Bumi dihadapannya pun mendengar.

Jinpa menatap Bumi untuk mencari tahu di sela detik perjabatan tangan itu.


1...2...3 detik berlalu dalam hening. Aneh. Bukan namanya yang aneh. Tapi ketika Bumi menyadari betapa dia merasa akrab dengan keheningan itu. Teduh. Pun dalam segenap diam seperti saat ini. 3 detik tambahan menyentuh tangan wanita itu berhasil Bumi dapatkan sebelum akhirnya alis Jinpa mulai mengernyit aneh.

...lalu lepas.

"Jin...pa, ya? Kerja di sini?", tanya Bumi kikuk.


"iya buat namanya dan nggak..saya gak kerja di sini.kebetulan aja pas lagi ada meeting di sekitar sini." Jinpa senyum berusaha senormal mungkin. poni rambutnya sejenak mengganggu matanya yang kemudian disampirkan ke samping kanan telinganya. gagal.
poninya memang pendek dan nanggung.

Jinpa senyum lagi.
Jinpa tidak kalah kikuk jika dibandingkan dengan Bumi.

ayo Jinpa..saatnya kamu untuk bertanya
iyah tapi apaaah?
i dont know..anything!

" kamu...penulis ya?"
lho?


Di depannya, Bumi tercengang. Jinpa yang gaya ngomongnya normal, yang bisa membuat Bumi meruntuhkan benteng semu antara dirinya dan sebuah-dunia-yang-tidak-lagi-dikenalnya, baru saja melakukan hal yang lebih tidak normal lagi. Satu tebakan jitu! Right to the spot! Dan ya, dalam sepersekian detik Bumi menyimpulkan bahwa pertanyaan itu masih masuk ruang nalarnya yang bertuliskan huruf kapital 'H.A.T.I.-.H.A.T.I.!'.

So here we go again, eh...?

Saat itu juga Bumi mundur 2 langkah sambil tersenyum getir.

"mm...maaf. Saya mesti pergi sekarang.", kata Bumi sambil berjalan cepat meninggalkan Jinpa yang melongo.

Masuk...! Masuk ke museum sekarang!


LHO!
ma-maksudnyah??

Jinpa melongo untuk sedetik berikutnya. mencoba menganalisa apa kira-kira penyebab si Bumi tiba-tiba memutuskan untuk segera menyelesaikan pembicaraan yang mulai juga belum.

"eh! hei..tunggu!"

Jinpa menyusul langkah Bumi yang makin cepat begitu mendengar panggilannya. Jinpa setengah berlari. sedikit lagi...sedikit lagi...Jinpa sudah setengah inchi dari jajaran bahu Bumi, dan sedikit menekan energi lebih, maka sampailah Jinpa di hadapan Bumi sambil sedikit terengah.

" tunggu!"
tanpa sadar kedua tangan Jinpa merentang tanda kalau dia mengharuskan Bumi untuk berhenti.Bumi tercengang dan Jinpa tidak peduli.

"jadi kamu bukan penulis?"

arrrggghh seharusnya bukan itu pertanyaanya Jinpaaaaaaaa!


Kaget dan bingung, Bumi sedikit beringsut melihat Jinpa terengah-engah di depannya. Matanya lurus melihat ke dalam dua bola mata di depannya yang juga balas menatapnya.

...what?!

"You're not.....ARE YOU SERIOUS?!?", mata Bumi sedikit menyipit ketika dia menanyakan ini dengan intonasi agak keras kepada wanita yang tak bisa ditebak di hadapannya ini.

"ng.."

Jinpa sempat sedikit tersekat. Dia tidak mengira pertanyaan yang dia juga belum tahu dari mana asalnya tadi telah membuat Bumi bereaksi seperti ini.
Bumi masih menanti jawaban Jinpa.

jin...jawab tuh

"why-why shouldnt I?"

perfect. now look...he's gone.

***

0 Comments:

Post a Comment

<< Home