Thursday, November 29, 2007

Keduabelas

“Sori telat tiga hari, Lie.”, sembari menyerahkan sebuah ulasan artikel gaya hidup, Bumi mencoba untuk tersenyum ramah pada salah satu editor favoritnya itu. Tersenyum ramah? Lebih ke feel guilty sih sebenernya. Dua kesempatan dia berurusan dengan Lie Tjandra, dua kesempatan itu pula dia terlambat. Fool!

“Parah loe. Ditelponin mati, SMS ngga dibales-bales. Ke mana aja sih? Dua artikel gampangan kaya gini aja loe telat mulu. Tinggal dateng ke acara, review suasana, interview selebritis yang pada dateng….DONE! Telat setengah jam lagi nama gue ancur, Bro! Professional dong kalo mau kerja.”

“It won’t happen again.”

“You better be sure this time, or start searching a new editor, ok?”, Lie melemparkan sebuah amplop coklat yang biasa digunakan sebagai pembungkus honor orang-orang freelance yang bekerja di situ, dan sebuah amplop putih kecil.

Bumi tersenyum, lebih getir lagi.

"Well then…gue cabut ya. Thanks for this.”

“Hmmm…” Dilihatnya Lie sudah hanyut kembali dalam pekerjaannya.

Dengan lesu, Bumi beranjak meninggalkan bilik kecil itu. Beberapa orang terlihat mondar-mandir di lantai tempat dia berada sekarang. Masing-masing dengan kesibukannya sendiri. Berbagai gaya rambut, pakaian, sampai body language yang berbeda sempat berpapasan dengan dirinya. Dering telepon seperti tak berhenti terdengar. Hectic.

Beberapa detik setelah telunjuk kanannya menekan tombol turun, pintu lift terbuka di depannya. Lantai dasar.

Sambil menghampiri parkiran motor, Bumi merobek amplop coklat yang ada di kantongnya, dan memasukkan semua uang yang ada ke dalam dompet. Dirobeknya juga amplop putih kecil yang tadi diberikan Lie untuk melihat detil tugas liputan selanjutnya.

Tugasnya kali ini aneh.

Biarkan wanita itu.

Menghela napas panjang, Bumi menyadari bahwa amplop yang ini tidak berhubungan dengan liputan apapun. Hanya satu tempat yang harus dia tuju saat itu.

***

Monday, May 07, 2007

Kesebelas

Basah.

lho..Jinpa menyentuh pipi kirinya perlahan. iya basah.

Tanpa disadari sebelumnya, pipi Jinpa telah basah oleh air mata yang tak jelas kapan turunnya.Ini kali pertama Jinpa menangis di depan orang apalagi cowok, apalagi orang asing! Jinpa masih sedikit shock menerima serangan informasi dari Bumi yang diberi efek nada tinggi hingga ia telat menyadari bahwa dia telah melakukan adegan air mata....
air mata air..matta....... wanitaaaaaaaaaaaaaa

Arrgghhhhhh
Ngapain sih lo Jinpaaaaaaa???


Jinpa menyadari semua menit di saat itu sama sekali tidak masuk akal
Dia ingin sekali memperjelas logika kehilangan dia atas lautnya kepada Bumi
Tapi ujung-ujungnya malah

AIR MATA INIIIIIIIIII
Shit!
Saatnya bunuh diri Jin..iyah bener BUNUH DIRI


Jinpa mengucek-ngucek matanya dengan salah satu tangannya yang bebas dari tugas menggotong sejumlah map arsip meetingnya hari ini.rasa sesak karena kesal telah bereaksi cengeng begini akhirnya meluap

”gak...gak perlu emosi gitu dong! sa-saya gak bermaksud buat ganggu kamu dan saya gak punya maksud jadi yang teratas di list kamu yang sisa isinya apa juga saya gak mau tau. terus Vas itu..” Nafasnya sesak.Jinpa menarik nafas dan berusaha sebisa mungkin getaran suaranya terdengar solid
”..vas yang sepengelihatan saya tadi mau retak itu juga saya baru tau sekarang kalau ternyata dia..” Jinpa mengambil jeda untuk membaca keterangan di dalam panel display vas tersebut “...dari dinasti Ming..dan..dan...”

Ayo Jin, bilang aja!

”vas itu juga bukan punya kamu kan? Dan...Jadi..jadi saya lari ke sini juga karena..”

wait..jangan-jangan lo bakal bil-
KARENA SAYA SUKA BUNGA KRISAN!!*”
..................................................... ....... ...... ................... .... ....... ......... ....................
...........errrrrright...smart girl

GSRUKK!

Jinpa menuntaskan alasan yang makin gak masuk akal itu dengan menghempaskan map-map arsipnya ke dada Bumi hingga ia terdorong jatuh.keduanya bertatapan dengan mata Jinpa yang seolah mengatakan kalau dia bisa menjelaskan lebih baik. Jinpa menyadari aksinya inilah yang menyebabkan Bumi ternganga dan mungkin menganggap Jinpa mahluk yang paling norak, dramatis gak penting dan gak guna saat ini

biarin! gak peduli!

Alih-alih merasa malu dengan tanggapannya yang tidak appropriate sama sekali, Jinpa melesat meninggalkan Bumi yang terduduk sembari dibanjiri kertas-kertas bergaris ala arsitektural karya Jinpa.



*vas hijau tersebut memiliki ukiran bunga krisan

Friday, April 06, 2007

Kesepuluh.

Vas?
Refleks Bumi melihat ke belakang tubuhnya.

Vas itu masih utuh.
Masih di sana, di tempat Bumi biasa mengagumi sang puja duniawinya.

?!?!? Tapi tadi katanya....!!!

Saat itu juga senyum getir tersungging kecil di wajah Bumi. Bumi ingin menghilang. Ingin tubuhnya seketika tidak menyerap dan memantulkan cahaya yang ada di sekitarnya. Atau cara apapun tak masalah. Hanya lenyap.

Dan Bumi membiarkan matanya memejam...

Ngga sekalian titel loe gue tambahin te-el-el aja, Bum...untuk T-O-L-O-L?!

"Ok, ok! Nice. Smooth. Perfecto! Saya nyerah. Saya heran gimana kamu bisa nemuin saya secepat ini, dan saya ngga mau tahu itu sekarang. More important is...WHAT IS THIS ALL ABOUT, YOUNG LAD?", kata Bumi keras sembari menyadari bahwa semua ketakutan yang tadi lenyap berganti amarah yang jelas-jelas terlihat dari kedua matanya yang menantang tajam ke depan.

...dan sekarang ni cewe malah bengong gini. GREAT!

"Ya, saya penulis, seperti yang kamu tebak tadi di sana. Ya, saya lahir Juli 1978 di Tasikmalaya. Dan ya, itu kota di mana pengrajin bordir di sana menduniakan satu sisi Indonesia yang lumayan ngga dihargai lagi pada jaman sekarang. Ya, saya tinggal sendiri di kawasan Blok M di sana...dan saya ngga punya masalah dengan itu. Ya, tempat itu juga saya bikin jadi kantor kecil saya nulis-nulis freelance ke beberapa majalah yang ada di Jakarta. Ya, saya freelance karena saya ngga suka terikat di satu sistem kerja di Indonesia yang sampai sekarang selalu bentrok sama salah satu pandangan hidup saya."

Menarik nafas sebentar, Bumi tahu saat ini mukanya memerah.

"Dan ya, beberapa minggu ini semua yang aneh-aneh tiba-tiba begitu aja muncul di hadapan saya. Dan selamat, kamu....Jinpa kan tadi? SAAT INI NAMA KAMU ADA DI LIST PALING ATAS DAN PALING MENGGANGGU DI SITU!"

Tiba-tiba saja satu ide meluncur cemerlang di pikiran Bumi.

"Dan kenapa kamu bisa tepat ada di sini, tepat di hadapan saya detik ini, bisa tahu bahwa saya di sini, karena kamu memang jelas-jelas tahu kalau vas hijau di belakang saya ini adalah ornamen yang paling berhasil bikin saya kagum selama bertahun-tahun dari ribuan benda yang ada di sini, dan sangat mungkin saya lari ke situ! Benar?"

Sedikit terengah, Bumi menanti jawaban. Di hadapannya, Jinpa masih diam. Mulutnya sedikit terbuka tanpa suara. Kaku. Mematung. Hanya matanya yang balas menatap Bumi. Menanar.

Sedih?

Walau hanya sekilas, Bumi bisa melihat secarik penyesalan di muka Jinpa. Hanya sekilas.

Detik berikutnya giliran Bumi gantian ternganga.

***

Wednesday, January 17, 2007

Kesembilan.

Sorong. Nama salah satu kota yang terletak di ujung teratas bumi Papua. Jinpa sempat sangat mencintainya hingga seperti berakar erat di tiap gerik matanya. Kota kecil nan rapih yang ramai akan spesies kasuari dan kakak tua masih beranggotakan keluarga hutan rindang yang berhamparan di kiri dan kanan jalan dengan aspal yang terlihat masih segar. Seingat Jinpa dia bahagia.
Jinpa menikmati di tiap detik pertemuannya dengan pagi, dengan malam dan dengan laut.

Laut saat itu masih tersentuh Jinpa dengan pelukannya.
Laut akan selalu di sana ketika sang bunda tak cukup mengeringkan luka di dalam Jinpa.
Jinpa jadi mandiri dan gampang menenangkan diri. Bahkan ketika Ayah dan kakak tiri datang masuk dalam kehidupan Jinpa, laut lagi-lagi menjadi andalan Jinpa Hanya memejamkan mata sejenak dan membayangkan laut tercintanya, maka Jinpa dapat menguasai pikiran dan hatinya sekaligus. Jinpa diatas angin.

Dan seiring waktu, ketenangan itu menjadi karakter utama Jinpa.

Kalah dalam pertandingan tenis? Tenang
Pacar direbut sahabat? Tenang
Sikap klien seperti ikan oscar minta makan? Tenang
Cinta bertepuk sebelah tangan? Tenang
ditowel-towel? gampar!

Kuncinya? Hanya mengambil 7 detik dari keseluruhan waktu, imaji kecintaannya langsung merasuk. Langsung meruak.
Meredamkan kepenatan

Saat ini pukul.09.45 wib
Di detik ke 9, Jinpa menemukan dirinya sedikit tersengal akibat mengejar mahluk baru bernama Bumi.(iyah...manusia..)
Dan untuk ke dua kali ini jurus andalan lautnya tiba tiba mengalami kegagalan cukup fatal.Mengapa diikatakan cukup fatal? karena Jinpa sempat memejamkan mata dan visi andalannya hampir tervisualisasi,nah..
jadibuyar begitu hidungnya mengendus aroma sang bumi yang memunggunginya. (bukan..bukan bau badan. Penjelasan ilmiahnya bisa dikatakan errrr feromon?)

entah apa yang mendorongnya tapi Jinpa merasa ia tidak boleh membiarkan Bumi pergi sekarang.

aku gak ngerti..
gak ngerti di bagian mananya Jin?
di bagian kenapa orang ini bisa langsung lari gituh
ya habis...kamu nanya asal nebak
ya kan gak harus pergi ninggalin begitu aja!
trus kamu kejar, gitu?
ya iya dong! dia lari!
biasanya kamu tenang
kalo lautnya sukses juga ga bakal aku kejar!ggrrrrggghh


Sampai detik ke 13.

Otak Jinpa bekerja super keras. Dia harus mengatakan sesuatu sebelum orang dihadapannya ini akan menghilang lagi.Dia harus protes sama Bumi! Lautnya hilang.

”Denger...sebenernya kamu..” mata Jinpa pindah fokus menuju benda antik di belakang Bumi. Mungkin Bumi menyadari kalau warna muka Jinpa segera berubah menjadi lebih pucat
”kamu....yang mecahin vas nya....bum?” lanjut Jinpa dengan warna muka yang sudah sempurna pucat.

Wednesday, November 08, 2006

Kedelapan.

Museum Nasional. Dibuka sejak tahun 1778 untuk umum sebagai organisasi non profit di bawah Direktorat Sejarah dan Arkeologi, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Indonesia. Sampai saat ini koleksinya mencakup peninggalan kebudayaan Indonesia dari zaman sejarah dan pra sejarah, termasuk artifak-artifak dari zaman batu, perjalanan kreasi tekstil para pengrajin di penjuru Indonesia, sampai koleksi emas dan perak dari jaman Indonesia lampau.

Bumi masih ingat rasanya pertama kali ke tempat ini. Saat itu kelas 2 SMP. Bumi sebenarnya tidak berminat untuk ikut, namun dirinya tak mempunya pilihan lain ketika ibunya memaksa dirinya mengikuti study tour dari sekolahnya ke salah satu museum dengan koleksi keramik Cina paling lengkap sejak dinasti Han, Tang, dan Ming
di dunia itu.

Dari semua koleksi keramik yang ada, sebuah vas periuk belanga berwarna hijau toska abad 16 dari dinasti Ming menarik perhatiannya. Terlihat sangat tua, namun Bumi bisa merasakan betapa sang empu pencipta membentuk motif bunga krisan di sekelilingnya dengan kesabaran dan kecermatan yang sangat tinggi. Sejak saat itulah minat Bumi pada barang-barang antik membubung tinggi hingga sampai saat ini.
Di sini, Bumi biasa menemukan ketenangan dari sumpeknya puluhan tenggat waktu dan situasi dalam hidupnya dengan menatap lama-lama maha karya favoritnya tersebut.

Tidak lagi.

Detik ini, untuk ke-12 kali dalam hidupnya, Bumi ada di depan kaca pelindung vas tersebut, masih berusaha mengatur napas dan degup jantungnya yang belum teratur. Jangankan mengagumi maha karya di depannya, membuat dirinya tenang pun dia belum mampu. Kalau saja dirinya tidak suka mengitari semua celah di tempat ini, Bumi tidak yakin dirinya berhasil melarikan diri dari kejaran wanita itu.

Again, must I....leave?
Now? Even here, strange things happen for no reason. And why in the hell she keeps chasing me like that? And...

Kaget. Dilihatnya pantulan dirinya sudah tidak lagi sendiri. Bumi bisa melihat mata si wanita mungil menatapnya lewat kaca.

Siapa tadi namanya...Jinpa?!? Sialan! Kenapa bisa...?! Arghhh!

***

Thursday, August 24, 2006

Ketujuh.

HACHIHHHHH!!

Sambil mengusap hidungnya Bumi melirik heran ke arah wanita mungil di sebelah kirinya. Jarak mereka tak begitu dekat, namun tadi dia masih bisa mendengar bersin kecil dari arah situ hampir berbarengan dengan dirinya. Flu, polusi, debu, dan masih banyak lagi penyebab syaraf hidung manusia tergelitik sampai akhirnya bersin. Tapi kenapa mesti barengan?!

Mata Bumi menyipit tajam. Setelah beberapa hari terakhir ini, rasa Bumi jadi oversensitive dengan kejadian-kejadian di sekelilingnya. Membayangkan setiap tanda aneh yang bisa saja tiba-tiba menghampiri dirinya membuat dirinya letih. Dan ini…

“Errr…hidung kamu ga pa pa?”, pertanyaan bodoh itu tiba-tiba saja keluar dari mulut Bumi.

Spontan Jinpa memegang hidungnya

"Nggak pa pa. Masih di tempatnya ni."

Huwahhhhh!
Jinpa bodooohh..jawaban macam apa ituuuu..lo gak nyadar apah? dia adalah mahluk bermata coklat dan bersuara indah tauuukk
bego lu bego lu bego lu!

Berisik aakkh!

"Ehm!" Jinpa mencoba mencari nada start yang lebih baik dan nyengir "Hidung kamu juga kan?"

Bagai mendengar suara background petir yang menggelegar, Jinpa nyengir tanpa tahu mukanya memucat menyadari betapa gagalnya dia saat itu sebagai seorang cewek yang telah 24 tahun hidup di dunia.

Pengen ngilang.

Di depannya mau tak mau Bumi tersenyum. Entah bagaimana, saat itu mahluk mungil asing di depannya mampu membuat dirinya merasa sangat nyaman.

Dan Bumi merindu rasa itu.

Menggaruk rambutnya yang sama sekali tidak gatal, Bumi memutuskan untuk maju selangkah dan menjulurkan tangannya. "...saya Bumi."

Please talk normally...please, God! Jgn ada kata-kata aneh yang keluar dari dia.


halo bumi...
Dalam hati Jinpa berbinar tenang saat dia mendengar nama 'Bumi' disebutkan.
"jinpa"
Jinpa menyambut tangan tokoh Bumi ini dengan spontan.

riiing...riiing...riiiiiiing
bunyi denting ringan yang menyejukkan memenuhi pendengaran Jinpa. Jinpa jenis individu yang suka menggunakan tema lagu dalam pikirannya untuk mendukung waktu hidupnya. tapi untuk yang satu ini Jinpa tidak yakin apakah ini memang hanya perintah dari otaknya atau sang Bumi dihadapannya pun mendengar.

Jinpa menatap Bumi untuk mencari tahu di sela detik perjabatan tangan itu.


1...2...3 detik berlalu dalam hening. Aneh. Bukan namanya yang aneh. Tapi ketika Bumi menyadari betapa dia merasa akrab dengan keheningan itu. Teduh. Pun dalam segenap diam seperti saat ini. 3 detik tambahan menyentuh tangan wanita itu berhasil Bumi dapatkan sebelum akhirnya alis Jinpa mulai mengernyit aneh.

...lalu lepas.

"Jin...pa, ya? Kerja di sini?", tanya Bumi kikuk.


"iya buat namanya dan nggak..saya gak kerja di sini.kebetulan aja pas lagi ada meeting di sekitar sini." Jinpa senyum berusaha senormal mungkin. poni rambutnya sejenak mengganggu matanya yang kemudian disampirkan ke samping kanan telinganya. gagal.
poninya memang pendek dan nanggung.

Jinpa senyum lagi.
Jinpa tidak kalah kikuk jika dibandingkan dengan Bumi.

ayo Jinpa..saatnya kamu untuk bertanya
iyah tapi apaaah?
i dont know..anything!

" kamu...penulis ya?"
lho?


Di depannya, Bumi tercengang. Jinpa yang gaya ngomongnya normal, yang bisa membuat Bumi meruntuhkan benteng semu antara dirinya dan sebuah-dunia-yang-tidak-lagi-dikenalnya, baru saja melakukan hal yang lebih tidak normal lagi. Satu tebakan jitu! Right to the spot! Dan ya, dalam sepersekian detik Bumi menyimpulkan bahwa pertanyaan itu masih masuk ruang nalarnya yang bertuliskan huruf kapital 'H.A.T.I.-.H.A.T.I.!'.

So here we go again, eh...?

Saat itu juga Bumi mundur 2 langkah sambil tersenyum getir.

"mm...maaf. Saya mesti pergi sekarang.", kata Bumi sambil berjalan cepat meninggalkan Jinpa yang melongo.

Masuk...! Masuk ke museum sekarang!


LHO!
ma-maksudnyah??

Jinpa melongo untuk sedetik berikutnya. mencoba menganalisa apa kira-kira penyebab si Bumi tiba-tiba memutuskan untuk segera menyelesaikan pembicaraan yang mulai juga belum.

"eh! hei..tunggu!"

Jinpa menyusul langkah Bumi yang makin cepat begitu mendengar panggilannya. Jinpa setengah berlari. sedikit lagi...sedikit lagi...Jinpa sudah setengah inchi dari jajaran bahu Bumi, dan sedikit menekan energi lebih, maka sampailah Jinpa di hadapan Bumi sambil sedikit terengah.

" tunggu!"
tanpa sadar kedua tangan Jinpa merentang tanda kalau dia mengharuskan Bumi untuk berhenti.Bumi tercengang dan Jinpa tidak peduli.

"jadi kamu bukan penulis?"

arrrggghh seharusnya bukan itu pertanyaanya Jinpaaaaaaaa!


Kaget dan bingung, Bumi sedikit beringsut melihat Jinpa terengah-engah di depannya. Matanya lurus melihat ke dalam dua bola mata di depannya yang juga balas menatapnya.

...what?!

"You're not.....ARE YOU SERIOUS?!?", mata Bumi sedikit menyipit ketika dia menanyakan ini dengan intonasi agak keras kepada wanita yang tak bisa ditebak di hadapannya ini.

"ng.."

Jinpa sempat sedikit tersekat. Dia tidak mengira pertanyaan yang dia juga belum tahu dari mana asalnya tadi telah membuat Bumi bereaksi seperti ini.
Bumi masih menanti jawaban Jinpa.

jin...jawab tuh

"why-why shouldnt I?"

perfect. now look...he's gone.

***

Friday, July 28, 2006

Keenam.

Jinpa menyadari bumi bagi dia bagai membuyar bebas.
Diantara kevakuman abstrak ini Jinpa sempat menengadah ke atas dan berkomunikasi ekspres dengan Zat yang diyakininya sebagai The Designer of Life.

A-ha...now what?

“mau kemana?”

Oke..act cool, Jin

“mau meeting di situh” Jinpa menunjuk dengan gerakan dagunya ke arah museum nasional. “ kak Adji mau kemana?” lanjut Jinpa sambil tersenyum tipis
“Aku mau ke situ juga”
“ mau ngapain?”
“mau meeting.” Senyum Adji makin mantap
“oo……”
Adji membiarkan kerutan bingung pada dahi Jinpa makin jelas tanpa mengetahui betapa tidak nyamannya Jinpa berada dalam radius lingkar psikologis Adji.

Jinpa resah.

Detak jantungnya mulai meraih interval yang tidak beraturan. Orang yang pernah menjadi sangat berarti bagi Jinpa ini menatapnya dengan senyum paling teduh yang pernah Jinpa lihat. LARI

Lari
Lari. Lompat ke frekuensi lain! Aku gak nyaman!
Ga ada gunanya! Walaupun aku menutup mata, walau gelap sudah di sini
Gak ada gunanya. GODDAMN IT! Udara.
Aku perlu udara. Gila !! kenapa jadi sesesak inih kenapa detik waktu jadi selambat ini kenapa haltenya gak nyampe-nyampe sih?? Cuman 1menit lagi kan cuman 58 detik lagi kan cuman 57 detik lagi kan???
Halahhh…jadi countdown ginih!


Kijang

Hah? Kijang?
Jinpa sempat menoleh ke kiri dan kanannya.
Suara yang sama dengan yang tadi.
Jinpa heran lagi.
Well…tapi kijang kayaknya memang objek yang tepat untuk jadi pengalihan pikiran secara instant saat ini.
Oke!
Kijang…..kijang…hewan berkaki empat…tanduknya kayak pohon kering. Praktis sih buat gantungin macem-macem. kan suka printilan tuh..ya handphone..ya dompet…kadang-kadang kantong belanjaan sale gituh.. eh buat gantungin cowok cakep gitu lucu juga kali yak…jadiin koleksi dan bisa dipamerin tanpa ribet bawanya.
Bawa? Hehehe emang belanjaan..mending nenteng berliter-liter haagen dazs daripada ribet ngurusin manusia beda planet gitu..
hmm
Beda planet juga gak apa apa sih kalau semua cowok matanya sedalam dia.
Dia?
Iyah..itu…yang lagi ngeberesin ranselnya. Sekilas matanya coklat. Iya gak sih?


Ciiiiiiit. Gebruk!

Jiinpa terjun bebas ke arah Adji mengakibatkan benturan pada dahi melawan dagu Adji.
“sori sori..kamu gak apa apa Jinpa?” Adji spontan minta maaf sambil menahan tawa. Dia mengerti dengan baik dalam hitungan setengah menit tadi Jinpa sedang melanglang buana dalam lamunan monolog.
“ hehe sori kak..lupa pegangan” cengir Jinpa sekenanya
“kamu tuh…kalo udah ngelamun..” Adji geleng-geleng kepala maklum.


Berbondong-bondong rombongan orang-orang berdasi dan berblazer rapih turun dari bus. Jinpa baru menginjakkan kakinya ke lantai halte ketika Adji menepuk dahinya
“damn! Lupa aku!” dan Adji segera naik kembali ke dalam bus
“lho..kak Adji bukannya mau meeting juga?”
Jinpa sedikit meninggikan suaranya yang bersaing dengan suara mesin bus dan derap gerak manusia-manusia figuran lainnya
“sori Jin..aku mesti ketemu Natan!”
”ha?? Kan bisa ntar sore aja” Jinpa terbawa paniknya Adji
“Aku belum ngasih selamat! Dia kan ulang tahun. Kamu udah ngasih selamat kan?”
Giliran Jinpa yang menepuk dahinya sedikit lebih keras dari Adji tadi.
“OIYA! Hari ini kak Natan ulang tahun!”
“tolong bilangin sama yang laen aku gak bisa dateng ya! Bilangin aja aku sakit perut trus kejang-kejang jadinya ga bisa bangun!” Adji kembali meninggikan suaranya setengah nada lebih tinggi dari Jinpa karena bus mulai bergerak perlahan.
“hah?? Yang laen? Emang kita meetingnya sa…” Jinpa terdiam.
Lagi..baru dia teringat kalau meetingnya hari ini bersama klien baru yang notabene adalah perusahaan IT milik keluarganya Adji. Jinpa baru menyadarinya sedetik setelah dia melihat Adji melambaikan tangannya sambil memberi gesture minta maaf.

...

Terlalu banyak yang ter-skip dalam penjadwalan ingatan Jinpa hari ini. Jinpa termangu mendekati bengong seperti orang kurang cerdas. Dia tidak menyadari bahwa di halte itu dia sudah sendirian.

Apa aja sih yang kupikirin sampe ulang tahun kak Natan bisa lupa…. kalo ternyata kak Adji adalah klien kantorku..
Ya iya lah Jiiiiin..Enviro….kan kamu yang bikinin brand logo nya dulu


Jinpa tersenyum getir

Yah, bener aja sih kak Adji mengorbankan meeting demi kak Natan. Kalo nggak bisa-bisa didiemin lagi tuh sampe 3hari

Jinpa tergelak pelan mengingat betapa lucunya ekspresi Adji ketika panik lantaran dia lupa hari wisudanya kak Natan sehingga telat datang sampai 1 1/2 jam. Padahal saat itu adalah saat pertama Adji bertemu sama papa dan mama.

...

Jinpa tidak sadar menutup matanya dengan telapak tangan kanannya.

Gak berasa..tau-tau mereka dah mau nikah aja..perjuangan berat tuh sebelum-sebelumnyah. Untung papa mama gak ada yang punya penyakit jantung atau darah tinggi….
fiuh….well..
menurut aku sih mendingan mereka merit di Belanda aja..lebih familiar ketimbang mesti ke US sana..dimana? castro city, California? Jauh juga…
Emang sih..disana emang komunitasnya gay..mereka bakal lebih nyaman…..tapi ntar malah gak mau pulang lagi ke indonesia..

jauh….


Berat..nafas Jinpa jadi sedikit lebih berat. Jinpa menengadah ke langit. Berharap dengan satu tarikan napas panjang akan melegakan sesaknya.

Tariiik..tariiiik..yang daleeeeeemmmm


HACHIIIHH!!



Jinpa bersin kencang. Saking kencangnya telinganya sempat berdenging

Tunggu….suara bersinnya kok kayak double ya tadi?

Jinpa menoleh ke kanannya.
Si mata coklat sedang sibuk menggosok hidungnya yang Jinpa yakin sama gatalnya dengan miliknya.
Hidung maksudnya.

***